Garis Finis si Bungsu 3

Tamparan Realita

​Upaya Raka untuk menjauhi Nisa berjalan seiring dengan datangnya minggu Ujian Tengah Semester kelima yang sangat krusial. Beban pikiran Raka kini berlipat ganda ia harus mati-matian mempertahankan nilai IPK-nya agar beasiswanya tidak dicabut, sambil terus berperang melawan perasaannya sendiri yang memberontak. Ia memaksa tubuh dan pikirannya melebihi batas wajar manusia normal.

​Namun, musuh terbesar Raka bukanlah deretan soal ujian analisis statistik yang sulit, melainkan kenyataan yang selalu menemukan celah untuk menjatuhkannya tepat saat ia mencoba berdiri tegak. Suatu sore, saat Raka sedang mengepel lantai teras di tempat kerjanya, ponselnya di saku celana bergetar hebat tiada henti. Layarnya menampilkan panggilan masuk dari nomor tetangga sebelah rumah kontrakannya di kampung.

​Dengan tangan gemetar dan perasaan tidak enak yang menyergap dadanya, Raka mengangkat telepon itu. Suara panik tetangganya terdengar bersahut-sahutan dengan suara pecahan barang dan teriakan laki-laki kasar dari seberang sana. "Ka, Raka! Pulang sekarang! Orang-orangnya Bang rentenir datang bawa preman. Ibumu didorong sampai pingsan, barang-barang dikeluarin semua ke jalan!"

​Dunia Raka seakan berhenti berputar pada porosnya. Gagang pel di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk yang keras. Darah di sekujur tubuhnya terasa tersedot habis hingga ke ujung kaki, membuatnya nyaris rubuh. Ia tidak ingat bagaimana ia memohon izin pada manajernya dengan wajah pucat pasi. Ia hanya ingat berlari sekencang-kencangnya menembus hujan badai sore itu menuju terminal bus terdekat.

​Sesampainya di kampung saat malam sudah larut, pemandangan yang menyambutnya mencabik-cabik sisa kewarasannya. Kaca jendela rumah kontrakannya pecah berantakan. Ibunya terbaring lemah dengan dahi memar di atas kasur tipis di ruang tengah, ditemani beberapa tetangga yang memandangnya dengan tatapan iba. Para penagih utang itu telah pergi, namun meninggalkan pesan ancaman mematikan yang diucapkan oleh tetangganya: jika bulan ini uang lima belas juta tidak dibayarkan, rumah itu akan disita paksa.

​Malam itu, Raka duduk sendirian di teras rumahnya yang hancur berantakan, memeluk lututnya dalam kegelapan yang dingin. Untuk pertama kalinya sejak ia menerima surat beasiswa itu bertahun-tahun lalu, Raka merasa semua usahanya sia-sia. Logika jangka panjang yang selalu ia agung-agungkan terasa seperti omong kosong belaka di hadapan ancaman nyata kelaparan, kekerasan, dan pengusiran ibunya esok hari. Uang lima belas juta adalah angka mustahil baginya saat ini.

​Raka menatap nanar rintik hujan sisa badai yang jatuh dari atap bocor. "Mungkin memang sudah saatnya aku menyerah," bisiknya pada malam yang sunyi, suaranya serak nyaris tanpa emosi. "Aku tidak ditakdirkan untuk jadi sarjana. Aku cuma ditakdirkan untuk jadi budak pelunas utang keluarga ini."

​Keesokan harinya, Raka tidak kembali ke kampus. Ia mengabaikan semua jadwal ujian tengah semesternya yang sangat penting. Ia mulai berkeliling kota kelahirannya dengan putus asa, mendatangi pabrik-pabrik, pelabuhan, dan pasar, mencari pekerjaan kasar apa pun yang bisa memberikan uang tunai dalam jumlah besar dan cepat. Ia siap menjual tenaganya sebagai kuli panggul, pekerja bangunan, atau apa pun asal ibunya aman bulan ini.

​Berhari-hari Raka menghilang bagaikan ditelan bumi. Ponselnya ia matikan karena tidak ingin diganggu oleh urusan kampus, atau lebih tepatnya, ia tidak sanggup melihat pesan dari Nisa yang menanyakan keberadaannya. Teman-teman sekelasnya mulai menyadari ketidakhadirannya di kelas-kelas wajib, dan desas-desus bahwa mahasiswa penerima beasiswa unggulan itu akan drop out mulai menyebar liar di lorong-lorong fakultas.

​Raka baru kembali ke kamar kosnya di kota pada hari kelima dengan tubuh babak belur akibat kerja kasar serabutan yang ia jalani, wajah yang tampak lelah, dan pikiran yang sepenuhnya kalut. Di atas meja belajarnya, ia telah menyiapkan secarik kertas  draf surat pengunduran diri dari kampus. Ia telah membuat keputusan paling menyakitkan dalam hidupnya. Ia akan melepaskan beasiswanya, melepaskan impiannya, dan secara otomatis melepaskan Nisa selamanya. Ia sedang memasukkan baju-bajunya ke dalam tas ransel lusuh ketika tiba-tiba terdengar ketukan keras dari pintu.

Bersambung...

Klik disini untuk part selanjut nya

catatan :cerita hanya fiktif belaka

Komentar