Garis Finis si Bungsu 4

Tembok yang Runtuh

​Ketukan di pintu kamar kos Raka terdengar keras, cepat, dan mendesak. Raka yang sedang menjejalkan kaus lusuhnya ke dalam tas ransel seketika membeku. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh malam. Bapak kos biasanya menagih uang sewa di awal bulan, sementara ini baru pertengahan. Dengan langkah gontai dan enggan, Raka memutar kunci dan membuka pintu perlahan.

​Di ambang pintu, berdirilah Nisa. Napas gadis itu memburu, rambutnya sedikit berantakan, dan jaket almamaternya basah oleh keringat serta gerimis di luar. Raut wajah Nisa adalah perpaduan antara kemarahan yang meluap-luap, kelegaan karena menemukan Raka, dan kekhawatiran yang amat sangat.

​"Kamu... mau apa ke sini, Nis?" suara Raka terdengar parau dan dingin. Ia berusaha menutupi tubuhnya di celah pintu, menghalangi pandangan Nisa agar tidak melihat kekacauan dan tas yang terbuka di dalam kamarnya.

​Namun Nisa bukanlah gadis yang mudah diusir. Tanpa memedulikan tatapan mengusir Raka, Nisa mendorong pintu dengan tenaga yang mengejutkan, memaksa masuk ke dalam kamar sempit berukuran tiga kali tiga meter itu. Mata Nisa langsung menyapu ruangan yang berantakan: buku-buku berserakan di lantai, tas ransel yang setengah penuh, dan secarik kertas putih bertuliskan Surat Pengunduran Diri Mahasiswa yang tergeletak pasrah di atas meja belajar.

​Nisa memungut kertas itu. Tangannya bergetar saat membaca baris pertama. Ia menoleh menatap Raka dengan mata membelalak tak percaya. "Ini apa, Ka? Kamu gila? Kamu mau buang semuanya begitu saja? Kamu ngilang lima hari berturut-turut di minggu UTS cuma buat nulis sampah ini?!"

​Raka maju selangkah, merebut kertas itu dari tangan Nisa dengan kasar. "Bukan urusanmu, Nis! Pulanglah. Udara makin dingin di luar," usir Raka, memalingkan wajahnya agar Nisa tidak melihat matanya yang memerah dan kantung matanya yang menghitam pekat seperti mayat hidup.

​"Bukan urusanku?!" suara Nisa meninggi, memecah keheningan malam di lorong kos. "Kamu partnerku! Kamu teman baikku! Dosen nyariin kamu, anak-anak sekelompok bingung kamu ke mana. Dan sekarang aku nemuin kamu di sini mau kabur kaya pengecut? Ada apa, Raka?! Tolong jangan anggap aku orang asing!"

​Bentakan Nisa itu ibarat peluru yang menembus bendungan rapuh di dada Raka. Selama bertahun-tahun, Raka menahan semuanya sendirian. Ia menahan lapar, menahan kantuk, menahan hinaan, dan menahan perasaannya yang bergejolak pada gadis di depannya ini. Dan detik itu juga, pertahanan si bungsu hancur lebur tanpa sisa. Tembok rasionalitasnya runtuh berkeping-keping.

​"Karena aku miskin, Nisa!" bentak Raka balik, suaranya pecah oleh isak tangis yang tiba-tiba meledak tanpa bisa ia tahan. Ia membanting kertas pengunduran diri itu ke lantai. "Kamu mau tahu kenapa? Rentenir datang ke rumahku! Mereka dorong ibuku sampai pingsan! Mereka kasih waktu sampai akhir bulan buat bayar lima belas juta, atau rumahku disita dan ibuku tidur di jalanan!"

​Raka mencengkeram rambutnya sendiri dengan frustrasi, napasnya tersengal-sengal menahan sesak yang luar biasa. "Lima belas juta, Nis! Gaji kerjaku di kedai sama cuci baju digabung tiga bulan pun nggak akan nyentuh angka itu. Kakak-kakakku kabur! Bapakku mati ninggalin utang ratusan juta! Aku cuma anak bungsu, Nis... aku cuma anak bungsu yang dipaksa nanggung dosa bapakku!"

​Tubuh Raka merosot ke lantai, lututnya kehilangan tenaga untuk menopang beban hidupnya yang kelewat batas. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil yang kehilangan arah. "Aku capek sok kuat. Aku capek belajar mati-matian padahal besok ibuku belum tentu bisa makan. Aku nggak sekuat yang kalian pikir... Aku harus berhenti kuliah, Nis. Aku harus kerja kasar jadi kuli ke Kalimantan atau ke mana pun yang bisa ngasih uang cepat malam ini juga."

​Melihat Raka yang selalu rasional kini hancur di lantai, Nisa terdiam. Gadis itu tidak mengeluarkan kata-kata kasihan yang klise. Ia tidak mengatakan "sabar ya" atau "semua akan baik-baik saja", karena ia tahu persis kata-kata itu tidak ada gunanya bagi perut yang lapar dan tagihan yang mengancam nyawa. Nisa perlahan ikut duduk bersimpuh di lantai yang dingin, tepat di hadapan Raka.

​Di dalam hati Raka yang hancur, terbersit keinginan egois yang amat kuat untuk memeluk Nisa, mencari perlindungan di bahu gadis itu dan merengek meminta tolong. Namun otaknya menamparnya keras-keras. Jangan sentuh dia, batin Raka perih. Aku ini orang yang lagi tenggelam di lautan utang. Kalau aku berani narik tangan Nisa sekarang, aku cuma akan bawa gadis sebaik dia ikut tenggelam mati bersamaku. Raka pun menelan mentah-mentah pengakuan cintanya kembali ke dasar kerongkongan.

Bersambung...

Klik disini untuk part selanjut nya

catatan :cerita hanya fiktif belaka

Komentar