Garis Finis si Bungsu 5

Mengeksekusi Rencana Keselamatan

​Hanya suara rintik hujan dan napas Raka yang tersengal yang memenuhi ruangan itu selama beberapa menit. Nisa membiarkan Raka menumpahkan seluruh keputusasaannya sampai habis. Setelah bahu Raka berhenti bergetar hebat, Nisa perlahan menyingkirkan kertas pengunduran diri itu dari jangkauan Raka. Ia menatap Raka dengan sorot mata yang luar biasa tajam, tidak ada sedikit pun keraguan di sana.

​"Nangisnya sudah?" tanya Nisa dengan nada tenang namun luar biasa tegas. "Sekarang, pakai logikamu yang bi sa kamu banggakan itu, Raka. Dengar aku baik-baik."

​Raka mendongak, menatap mata Nisa dengan pandangan kosong dan bingung.

​"Kamu pikir dengan putus kuliah dan jadi kuli di pulau seberang, utang bapakmu bakal langsung lunas?" cecar Nisa tanpa ampun, membedah cacat logika dalam keputusasaan Raka. "Gaji kerja kasarmu paling banter cuma bisa buat bayar bunga bulanannya saja. Pokok utangnya akan terus beranak-pinak sampai kamu mati kelelahan. Pengorbanan beasiswamu bertahun-tahun bakal jadi sampah!"

​Kalimat Nisa menohok Raka tepat di ulu hati, karena Raka tahu gadis itu seratus persen benar. "Ibumu butuh penyelamat jangka panjang, bukan martir yang mati konyol," lanjut Nisa. Ia langsung meraih laptop Raka yang terbuka di atas kasur dan menyalakannya. "Gelar sarjanamu dari kampus ini adalah tiket emasnya. Dengan IPK-mu yang Cum Laude itu, kamu bisa dapat gaji puluhan juta pas lulus nanti. Pokok utang itu baru bisa hancur kalau kamu lulus!"

​"Terus uang lima belas juta buat bulan ini darGaris Finis si Bungsu 1i mana, Nisa?!" bantah Raka, masih terjebak dalam kepanikan finansialnya. "Rentenir nggak terima ijazah yang masih dicetak dua tahun lagi!"

​"Kita cari pinjaman lunak dari yayasan kampus atau koperasi mahasiswa besok pagi," jawab Nisa cepat, matanya menatap layar laptop mencari informasi. "Lalu kita susun ulang jadwalmu. Kamu kurangi jam tidurmu. Kita cari kerja freelance desain atau nulis copywriting yang bisa dikerjakan malam hari dari kos, bayarannya per project dan jauh lebih besar dari jaga kedai. Soal tugas kelompok, aku yang akan cover bagianmu sampai masalahmu stabil."

​Mendengar rentetan rencana Nisa yang sangat taktis dan solutif, Raka tertegun. Ia melihat sosok gadis di depannya ini bukan lagi sekadar teman sekelompok yang baik hati, melainkan seorang pejuang yang sedang ikut mengangkat pedang demi melindungi nyawa Raka. Di detik itulah, semua keraguan Raka tentang cinta pertamanya sirna. Dadanya bergemuruh oleh rasa kagum dan cinta yang begitu absolut.

​Sore itu juga, ditemani suara derai hujan yang mulai mereda, Raka membongkar kembali tas ranselnya. Kaus-kaus lusuh yang tadinya ia jejalkan dengan putus asa, kini ia keluarkan. Nisa membantunya merapikan tumpukan buku yang berserakan di lantai. Dalam kebisuan itu, sebuah pakta tak kasat mata terbentuk di antara mereka. Raka tidak jadi pulang dengan tangan kosong. Ia memilih bertarung.

​Keesokan paginya, rencana penyelamatan tahap pertama dieksekusi. Raka dan Nisa sudah berdiri di depan ruang Direktorat Kemahasiswaan kampus. Berbekal surat keterangan tidak mampu dari desa, transkrip nilai Cum Laude-nya, dan Nisa yang mendampinginya sebagai saksi, Raka mengajukan permohonan pinjaman darurat ke yayasan alumni. Setelah negosiasi yang alot dan melelahkan, pada pukul dua siang, permohonan senilai lima belas juta itu disetujui.

​Uang itu langsung Raka transfer ke rekening tetangganya di kampung untuk meredam rentenir. Begitu Raka menelepon ibunya dan mendengar tangis kelegaan dari seberang pulau, kaki Raka langsung lemas. Itu adalah kemenangan kecil yang sangat krusial. Malam harinya, fase kedua dari rencana Nisa dimulai. Mengandalkan koneksi dari kakak tingkat yang dikenalkan Nisa, Raka berhasil mendapatkan pekerjaan lepas sebagai tenaga entri data dan copywriter.

​Sejak hari itu, kamar kos Raka berubah menjadi ruang tempur. Pagi hingga sore ia di kelas, malam hingga dini hari ia mengetik ribuan baris data untuk klien. Tidur tiga jam sehari menjadi kemewahan baru baginya. Namun, kehadiran Nisa di masa-masa kelam ini benar-benar menjadi jangkar kewarasannya. Gadis itu menepati janjinya mengurus tugas kelompok dan sering mampir sekadar menggantungkan sebungkus nasi di pintu Raka.

​Di tengah kelelahan ekstrem itu, perasaan Raka mengendap menjadi resolusi yang sunyi. Ia mengubah cinta pertamanya itu menjadi bahan bakar. Setiap kali ia menyelesaikan satu proyek freelance, ia membatin: Ini buat melunasi utang ibuku, dan ini agar aku cepat pantas berdiri di sebelah Nisa. Dedikasi gila-gilaan itu membuahkan hasil, membawanya melangkah pasti menuju garis finis yang dijanjikan.

Bersambung...

Klik disini untuk part selanjut nya

catatan :cerita hanya fiktif belaka


Komentar