Garis Finis si Bungsu 1


Logika di Atas Logika

​Angka-angka di buku catatan usang itu selalu menjadi hal pertama yang Raka lihat saat bangun tidur dan hal terakhir sebelum ia memejamkan mata. Totalnya tidak pernah mengecil, justru terus membengkak dengan bunga yang seakan mengejek kemiskinannya. Sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, ia terpaksa menelan mentah-mentah beban ratusan juta rupiah akibat bisnis ayahnya yang hancur. Ayahnya telah wafat, dan meninggalkan ibu yang sakit-sakitan dan rentenir yang tak kenal ampun menagih utang.

​Dua kakak Raka yang seharusnya menjadi tulang punggung justru memilih kabur dari kenyataan pahit tersebut. Satu menikah dan pindah pulau tanpa pernah memberi kabar, sementara yang lainnya pergi ke luar kota dengan dalih mencari kerja namun tak pernah mengirimkan sepeser uang pun. Tinggal Raka sendirian untuk memikul semuanya. Bagi Raka yang baru lulus SMA, masa muda dan kebebasan adalah sebuah kemewahan yang tidak ada dalam kamus hidupnya.

​Di tengah keputusasaan mencari pekerjaan serabutan, sebuah amplop cokelat dari universitas negeri terkemuka tiba di rumah kontrakannya yang reyot. Raka dinyatakan lolos seleksi penerimaan mahasiswa baru sekaligus mendapatkan beasiswa penuh hingga lulus. Surat itu seharusnya menjadi kabar gembira yang dirayakan dengan sujud syukur, namun bagi Raka, kertas itu terasa seperti pisau bermata dua yang siap melukainya. Ia menatap ibunya yang terbatuk di sudut ruangan, lalu menatap surat di tangannya dengan dada sesak.

​Malam itu, terjadi perdebatan hebat di dalam kepalanya. Logika pertamanya berteriak agar ia membuang surat itu, mencari pekerjaan di pabrik atau menjadi kuli bangunan esok harinya agar bisa langsung mencicil utang yang ditagih setiap minggu. Namun, logika keduanya, yang lebih dingin dan kalkulatif, berbisik jauh lebih keras. Bekerja kasar hanya akan menghasilkan uang receh yang akan langsung habis tertelan bunga rentenir utang pokoknya tidak akan pernah tersentuh.

​"Kalau aku kuliah," gumam Raka pada dirinya sendiri di bawah lampu bohlam yang remang, "aku bisa dapat pekerjaan yang layak. Gajinya bisa sepuluh kali lipat. Aku bisa memotong akar masalah ini, bukan cuma menggunting daunnya."

​Keputusan pun diambil dengan tekad sekeras baja. Raka akan mengambil beasiswa itu, bekerja paruh waktu di sela-sela jadwal kuliah, dan hidup sehemat mungkin agar sebagian besar uang sakunya bisa dikirimkan ke rumah.

​Memasuki dunia perkuliahan, Raka bagaikan alien di tengah kerumunan anak muda yang bebas dan penuh tawa. Sementara teman-temannya sibuk merencanakan tempat nongkrong sepulang kelas atau membicarakan tren terbaru, isi kepala Raka hanya berputar pada jadwal sif kerjanya di kedai kopi nanti malam. Ia memasang tembok tebal di sekeliling dirinya, bersikap dingin, sinis, dan irit bicara agar tidak ada yang mendekat. Baginya, bersosialisasi adalah pemborosan waktu dan energi.

​Namun, tembok es itu perlahan menemukan celahnya saat pembagian kelompok tugas pengantar ekonomi di semester satu. Raka disatukan dengan seorang mahasiswi bernama Nisa. Berbeda dengan mahasiswi lain yang mungkin sebal atau terintimidasi melihat wajah kaku Raka, Nisa justru menyapanya dengan senyum lebar yang tulus. "Mohon bantuannya ya, Raka. Kudengar kamu jago banget soal hitungan," sapa Nisa saat itu dengan suara yang renyah dan bersahabat.

​Sejak hari itu, Nisa menjadi satu-satunya orang yang berhasil masuk ke zona nyaman Raka. Nisa tidak pernah banyak bertanya mengapa Raka selalu memakai sepatu yang ujungnya sudah mengelupas, atau mengapa Raka selalu menolak diajak makan di kantin. Nisa seolah memiliki radar empati yang luar biasa tajam. Ia tahu Raka sedang berjuang sendirian, meski tidak tahu detail pertarungannya.

​Interaksi mereka mengalir dengan sangat natural dan tanpa tekanan. Nisa sering kali diam-diam menyelipkan roti atau kotak bekal ekstra ke dalam tas Raka dengan alasan yang dibuat-buat. "Ibuku masak terlalu banyak hari ini, tolong bantu habiskan ya, Ka, daripada mubazir," ucapnya ringan. Nisa juga yang selalu memfotokan catatan kuliah ketika Raka terpaksa membolos karena harus mengambil sif tambahan di tempat kerja cuci baju.

​Bagi Raka, Nisa adalah teman kuliah yang baik sekaligus teman yang tidak menuntut. Raka sangat menghargai keberadaan Nisa, namun ia memastikan batas di antara mereka sangat jelas. Tidak ada perasaan apa-apa, murni hanya dua mahasiswa yang saling membantu untuk bertahan hidup di kerasnya tugas dunia kampus.

​Karena keluarganya terjerat utang yang sangat besar, si bungsu itu ragu dan sama sekali tidak memiliki arah ke jatuh cinta. Ia adalah tumpuan terakhir keluarganya, dan sebuah mesin pencetak uang tidak butuh romansa untuk bisa beroperasi. Cinta butuh biaya, waktu, dan fokus, sedangkan Raka tidak memiliki ketiganya. Setidaknya, itulah keyakinan mutlak yang ia pegang erat-erat di tahun pertamanya.

Bersambung...

Klik disini untuk part selanjut nya

catatan :cerita hanya fiktif belaka

Komentar

  1. Terimakasih telah bertahan dan tidak berpasrah dengan label sibungsu

    BalasHapus
  2. good job
    btw gw yng di anon, akun gw kena banned please kita blm mutual

    BalasHapus

Posting Komentar