Garis Finis si Bungsu 2
Anomali di Semester Pertengahan
Waktu bergulir tidak terasa, membawa Raka dan Nisa menjejakkan kaki di semester empat. Rutinitas Raka masih sama gilanya. pagi hingga siang dihajar materi kuliah yang semakin rumit, sore hingga malam dihajar kerasnya pekerjaan paruh waktu, dan dini hari dihabiskan untuk mengerjakan tugas. Namun, ada satu hal yang mulai terasa berbeda tanpa ia sadari.
Siang itu, perpustakaan kampus sedang sepi. Raka tengah sibuk mengetik laporan praktikum dengan mata yang merah karena kurang tidur. Di hadapannya, Nisa duduk anteng membaca buku referensi sosiologi. Tiba-tiba, Nisa mengangkat wajah, menyingkirkan anak rambut yang menutupi matanya ke belakang telinga, dan menatap raut wajah Raka yang sangat serius. "Kamu kalau lagi fokus gitu alisnya sampai mau nyambung, Ka," goda Nisa pelan, disusul tawa kecil yang terdengar sangat merdu di telinga Raka.
Saat Raka mengangkat wajah, menatap mata Nisa dan melihat senyum itu, sesuatu yang sangat ganjil terjadi di dalam dadanya. Jantungnya tiba-tiba berdentum dua kali lebih cepat, menghantam tulang rusuknya dengan ritme yang membuatnya hampir sesak napas. Tangannya yang berada di atas keyboard mendadak dingin dan berkeringat. Perutnya terasa seperti diaduk-aduk oleh perasaan gugup yang sangat.
Raka langsung membuang pandangannya kembali ke layar laptop, berpura-pura mengetik sesuatu meski pikirannya mendadak kosong melompong. Ada apa ini? batinnya panik. Seumur hidupnya, Raka tidak pernah merasakan sensasi fisik di luar kendali seperti ini saat berinteraksi dengan orang lain. Ia meraba dadanya diam-diam. Apakah ia terlalu banyak minum kopi hitam dari pantri tempat kerjanya semalam? Ataukah ini gejala asam lambungnya yang memburuk akibat sering telat makan?
Keanehan itu ternyata tidak berhenti di perpustakaan. Seminggu kemudian, saat Nisa tidak masuk kuliah karena demam, Raka mendapati dirinya tidak bisa fokus sedikit pun pada penjelasan dosen di depan kelas. Matanya terus melirik ke bangku kosong di sebelahnya. Ada perasaan cemas yang tidak masuk akal bersarang di otaknya, mengganggu konsentrasinya. Ia bahkan bolak-balik membuka layar ponsel, ragu apakah ia harus mengirim pesan untuk menanyakan keadaan gadis itu atau tidak.
Sebagai pemuda yang belum pernah jatuh cinta seumur hidupnya, Raka benar-benar buta akan sinyal-sinyal emosinya sendiri. Ia mulai menganalisis 'gejala-gejala' ini menggunakan logika matematis yang biasa ia pakai untuk memecahkan soal ekonomi. Jantung berdebar saat ditatap, cemas saat tidak bertemu, dada terasa hangat saat ia tersenyum. Raka bahkan mencoba mencari korelasi antara gejala tersebut dengan tingkat stresnya menghadapi tanggal tagihan bulan ini.
Namun, sekeras apa pun ia mencoba menyangkal, jawabannya perlahan mengapung ke permukaan akal sehatnya, menghancurkan rasionalitasnya. Ini bukan penyakit fisik. Ini bukan asam lambung atau efek kafein berlebih. Saat melihat Nisa kembali masuk kuliah dengan wajah pucat keesokan harinya, dan tanpa sadar Raka langsung berlari membelikan gadis itu teh hangat dan menaruhnya di meja sesuatu yang biasanya terlalu boros untuk ia lakukan Raka akhirnya dihadapkan pada satu kesimpulan mutlak. Ia menyukai Nisa.
Penemuan itu alih-alih membuatnya berbunga-bunga, justru menghantam Raka seperti kampak raksasa. Panik menyergap setiap inci tubuhnya. Ia teringat kembali pada tumpukan kertas tagihan di rumah, pada ibunya yang rentan, pada janji yang ia buat pada dirinya sendiri malam itu di bawah lampu bohlam yang remang. Jatuh cinta adalah sebuah kemewahan yang gila, dan ia adalah orang miskin yang sama sekali tidak sanggup membayar harganya.
Keraguan dan ketakutan itu perlahan mengubah sikap Raka seratus delapan puluh derajat. Karena beban utang keluarganya yang mengerikan, ia merasa tidak memiliki hak untuk memupuk perasaan ini, apalagi kepada gadis sebaik Nisa. Ia mulai membuat jarak secara sepihak dan radikal. Jika biasanya mereka berjalan beriringan ke gerbang kampus sepulang kelas, Raka kini sering beralasan harus buru-buru pergi mengejar bus.
Ia memotong intensitas obrolan mereka menjadi sekadar urusan tugas belaka. Pesan-pesan Nisa yang biasanya ia balas dengan kalimat panjang, kini hanya dibalas dengan singkatan kaku seperti "Y" atau "Ok". Raka menutup mata rapat-rapat pada kebingungan yang memancar dari wajah Nisa.
Nisa, dengan kepekaannya, tentu menyadari perubahan drastis ini. Ada sorot kekecewaan yang kentara di mata gadis itu setiap kali Raka menghindarinya seolah ia membawa wabah penyakit. Namun Raka menelan rasa sakitnya sendiri. Ia mengunci hatinya kembali, meyakinkan dirinya bahwa menyakiti Nisa sekarang dengan menjauhinya jauh lebih baik daripada menenggelamkan gadis itu ke dalam jurang kemiskinan keluarganya di masa depan.
Komentar
Posting Komentar