Garis Finis si Bungsu - end
Waktu Yang Tertunda
Empat tahun masa perkuliahan akhirnya berlalu seperti kedipan mata yang dipenuhi keringat dan darah. Hari wisuda itu tiba, menjadi garis finis pertama dari rentetan pertarungan panjang Raka. Sesuai prediksi Nisa bertahun-tahun lalu, Raka berdiri tegak di atas podium sebagai lulusan terbaik dengan predikat Cum Laude. Tidak ada perayaan mewah setelahnya esok harinya Raka langsung menandatangani kontrak kerja dengan sebuah perusahaan multinasional yang menawarkan gaji jauh di atas ekspektasinya.
Cerita melompat tiga tahun kemudian. Selama tiga tahun bekerja di perusahaan raksasa tersebut, kehidupan Raka secara kasat mata tidak berubah drastis. Ia tidak membeli mobil baru atau menyewa apartemen mewah seperti rekan-rekan seangkatannya. Ia tetap tinggal di kos yang sederhana, memakai kemeja murahan yang dibeli di pasar malam, dan makan di warung tegal langganannya.
Alasannya sederhana seluruh gajinya yang mencapai puluhan juta rupiah setiap bulan, ia transfer langsung ke rekening ibunya. Raka sedang melakukan serangan penghabisan untuk melunasi pokok utang keluarga yang selama bertahun-tahun menahannya di dasar neraka. Dan selama tiga tahun penantian itu pula, Nisa yang kini bekerja di perusahaan agensi kreatif tetap setia berada di sana, menjadi sahabat yang menemani Raka menyelesaikan "tugas akhirnya" tanpa banyak menuntut.
Hingga tibalah suatu Jumat sore di awal musim kemarau. Raka berdiri di depan mesin ATM dengan tangan gemetar namun hati yang luar biasa mantap. Ia memasukkan kartu, menekan tombol transfer, dan memasukkan nominal cicilan terakhirnya. Mesin berdesing pelan sebelum layar menampilkan tulisan "Transaksi Berhasil". Raka menatap buku catatan kecil di tangannya yang berisi riwayat utang keluarganya. Angka ratusan juta yang membelenggunya kini telah berubah menjadi Rp 0.
Beban raksasa yang menekan tulang punggungnya sejak ia berusia delapan belas tahun akhirnya hancur berkeping-keping. Ia bebas. Ia bukan lagi si bungsu sandera lintah darat ia kini hanyalah seorang pria merdeka yang memiliki kuasa penuh atas masa depannya sendiri. Malam harinya, untuk pertama kalinya tanpa dibebani bayang-bayang ketakutan, Raka mengajak Nisa makan malam di sebuah kafe pinggir jalan yang dulu sering mereka datangi zaman kuliah.
Nisa yang baru pulang dari kantor datang dengan wajah cerah, tidak menyadari apa yang akan terjadi. Obrolan ringan mereka tentang pekerjaan seketika terhenti saat Raka merogoh saku kemejanya. Ia mengeluarkan secarik kertas resmi dan meletakkannya di atas meja, mendorongnya perlahan ke hadapan Nisa. Nisa mengernyit, membaca surat yang memiliki legalisir dan meterai tersebut. Matanya perlahan membelalak, lalu langsung berkaca-kaca menyadari bahwa itu adalah Surat Keterangan Lunas dari pihak kreditur ayahnya Raka.
"Tugasku buat keluargaku sudah selesai, Nis," suara Raka terdengar sangat ringan, seringan udara yang mengalir di sekeliling mereka. Senyum tulus mengembang di wajahnya senyum lepas tanpa beban yang belum pernah Nisa lihat sejak hari pertama mereka bertemu di kelas pengantar ekonomi tujuh tahun lalu.
Raka menatap lurus ke dalam mata Nisa, membiarkan dinding pertahanannya rubuh sepenuhnya. "Dulu di semester empat, saat jantungku tiba-tiba berdebar waktu kamu senyum di perpustakaan, aku ketakutan setengah mati. Aku pikir aku sakit atau stres berat. Ternyata malam itu aku baru sadar, aku jatuh cinta sama kamu."
Nisa menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, air matanya tak terbendung lagi dan menetes di pipinya. Pengakuan jujur itu adalah hal yang diam-diam selalu ia nantikan.
"Aku minta maaf karena aku pengecut dan bikin kamu nunggu bertahun-tahun dalam ketidakpastian," lanjut Raka, suaranya kini bergetar menahan haru yang meluap. "Dulu aku nggak berani bilang, karena aku bersumpah nggak akan pernah narik kamu masuk ke dalam neraka kemiskinanku. Tapi malam ini, nerakanya sudah aku hancurkan. Nis... sekarang aku mau hidup buat diriku sendiri. Dan aku cuma mau menghabiskannya sama kamu."
Raka mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil dari saku jaketnya, membukanya untuk memperlihatkan cincin perak sederhana namun elegan. "Maukah kamu menikah denganku?"
Enam bulan kemudian, di sebuah halaman belakang yang didekorasi dengan lampu-lampu gantung yang hangat, Raka mengucapkan janji sucinya. Ibunya menangis bahagia di kursi roda, terbebas selamanya dari bayang-bayang masa lalu. Tidak ada pesta mewah bernilai miliaran, hanya tawa hangat dari teman-teman terdekat yang menjadi saksi. Saat Raka mengecup kening Nisa di altar, ia tahu bahwa keputusannya untuk tidak menyerah di kamar kos malam itu adalah keputusan paling berharga. Mesin pekerja keras itu kini telah resmi menemukan rumahnya.
Tamat
catatan :cerita hanya fiktif belaka
fedd back kesuruhan berita : Klik disini
Komentar
Posting Komentar